Kepala KMI/MA DiniyahPutri Lampung Hadiri Pembukaan Pelatihan Implementasi Tsaqafah Islamiyah

 

Kendari,- Ahad, 11 Januari 2026, menjadi momentum berharga bagi Kepala KMI/MA DPL yang mendapat kesempatan untuk bergabung dalam acara pembukaan *Pelatihan Implementasi Buku Tsaqafah Islamiyah*. Pelatihan ini dirancang berdasarkan kerangka *Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)* dan pendekatan *Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)*.

Keberkahan acara semakin lengkap dengan kehadiran serta arahan langsung dari tokoh pendidikan nasional, *Prof. dr. Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D.* Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional dan Rektor Universitas YARSI yang kini juga menjabat sebagai Ketua DPP Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) ini, memberikan pencerahan sekaligus motivasi bagi seluruh peserta pelatihan.

Dalam arahannya, Prof. Fasli Jalal menekankan peran strategis guru dalam *mengimplementasikan Buku Tsaqafah Islamiyah secara sungguh-sungguh dan kontekstual*. Beliau menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar bahan ajar biasa, melainkan *buku kajian keislaman yang komprehensif*.

“Buku ini memuat pemahaman mendalam tentang konsep, pemikiran, dan pandangan hidup Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Cakupannya menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan, sehingga diharapkan dapat menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak yang kokoh bagi peserta didik,” jelas Prof. Fasli.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa penguatan tsaqafah Islamiyah bertujuan membentuk *pribadi muslim yang utuh* (*al-insan al-kamil*), yang tidak hanya unggul secara intelektual tetapi juga matang spiritualitasnya dan berakhlak karimah. “Inilah hakikat pendidikan Islam yang sejati: menghadirkan ilmu yang menumbuhkan kesadaran, cinta, dan tanggung jawab kepada Allah dan sesama,” tegasnya.

Yang menarik, Prof. Fasli Jalal menyoroti keselarasan yang erat antara Tsaqafah Islamiyah, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), dan Pembelajaran Mendalam. Menurutnya, KBC dengan nilai kasih sayang dan empatinya, serta pembelajaran mendalam yang mengutamakan pemahaman makna, bertemu secara harmonis dengan substansi Tsaqafah Islamiyah.

“Ketiganya bersinergi menuju satu tujuan: *pendidikan yang memanusiakan manusia dan mendekatkan mereka kepada nilai-nilai ilahiyah*. Ini adalah fondasi untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati cahaya,” paparnya.

Arahan bernas ini menjadi pengingat dan penyemangat baru bagi segenap pendidik. Tugas guru tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi yang lebih utama adalah *menanamkan cara pandang hidup Islami yang kokoh*, relevan dengan tantangan zaman, serta mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa.(Rls/Tim)

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR